{"id":122,"date":"2026-08-24T08:12:29","date_gmt":"2026-08-24T08:12:29","guid":{"rendered":"https:\/\/garudamerah.my.id\/garudame\/?p=122"},"modified":"2026-08-24T08:12:29","modified_gmt":"2026-08-24T08:12:29","slug":"dari-bocor-alus-ke-ancang-ancang-jokowi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/garudamerah.my.id\/garudame\/2026\/08\/24\/dari-bocor-alus-ke-ancang-ancang-jokowi\/","title":{"rendered":"DARI BOCOR ALUS KE ANCANG-ANCANG JOKOWI"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Membaca Jejak Digital Tempo\u2013Jokowi<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Catatan Agus M. Maksum<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Ada sebuah foto yang tampak sederhana: Joko Widodo duduk, mikrofon terpasang, tim Bocor Alus Tempo berada di sekelilingnya.<br>Bagi publik, mungkin itu sekadar wawancara.<br>Tetapi bagi OSINT, yang menarik bukan hanya siapa bertemu siapa. Melainkan kapan, berapa kali, dalam konteks apa, dan apa yang kemudian diproduksi oleh media.<br>Pada 2026, Bocor Alus Tempo dua kali menemui Jokowi di Solo. Pertama, 22 Juli, dalam pertemuan off the record. Kedua, 11 Agustus, wawancara terbuka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Lalu muncul cover Tempo edisi 24\u201330 Agustus 2026:<br>\u201cANCANG-ANCANG JOKOWI.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Subjudulnya bahkan lebih penting:<br>\u201cWawancara eksklusif dengan Joko Widodo tentang hubungan dengan Presiden Prabowo, ijazah palsu, dan manuver politiknya menuju 2029.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Di sinilah jejak digital menjadi menarik.<br>Sebab kita tidak boleh melupakan sejarah.<br>Pada Pilpres 2014, sejumlah penelitian akademik mencatat kecenderungan framing Tempo yang positif terhadap Jokowi dan lebih negatif terhadap Prabowo. Jokowi pernah ditempatkan sebagai \u201cMeteor Politik dari Kampung\u201d, sementara Prabowo diberi frame \u201cAmbisi Lama Sang Jenderal.\u201d<br>Namun setelah Jokowi berkuasa, relasinya berubah.<br>Tempo mengkritik berbagai persoalan pemerintahan: KPK, janji politik, cawe-cawe, politik dinasti, Gibran, Anwar Usman hingga proses politik menuju Pilpres 2024. Bocor Alus bahkan mengangkat tema \u201cPertunjukan Dinasti Politik Jokowi.\u201d<br>Maka jejaknya terlihat jelas:<br>2014 \u2014 Jokowi sebagai figur perubahan.<br>2019 \u2014 Jokowi sebagai objek kritik kekuasaan.<br>2023\u20132024 \u2014 Jokowi dan dinastinya sebagai objek investigasi.<br>2026 \u2014 Jokowi kembali sebagai aktor politik menuju 2029.<br>Di sinilah muncul cognitive dissonance.<br>Yang sudah terbukti bukan bahwa Tempo kembali menjadi pendukung Jokowi.<br>Yang terbukti adalah perubahan posisi Jokowi dalam ruang editorial Tempo.<br>Dulu Jokowi banyak hadir sebagai objek kritik.<br>Kini ia memperoleh akses langsung, wawancara eksklusif, dan ruang cover utama sebagai aktor yang relevan menuju 2029.<br>Dan kata \u201cANCANG-ANCANG\u201d bukan detail kecil.<br>Ancang-ancang berarti persiapan menuju sesuatu.<br>Dan Tempo sendiri menyebut arahnya:<br>2029.<br>Karena itu pertanyaan OSINT kita seharusnya tidak lagi sekadar:<br>\u00ab\u201cSetelah masuk ke rumah Jokowi, apakah cara Tempo memberitakan Jokowi berubah?\u201d\u00bb<br>Pertanyaan itu terlalu sempit.<br>Pertanyaan yang lebih tajam adalah:<br>\u00ab\u201cMengapa setelah kembali memperoleh akses langsung kepada Jokowi, Tempo memberikan ruang editorial yang begitu besar untuk menempatkannya kembali sebagai aktor politik penting menuju 2029?\u201d\u00bb<br>Ada beberapa kemungkinan.<br>News value: Jokowi masih memiliki daya politik besar.<br>Access strategy: Jokowi membutuhkan kanal komunikasi, termasuk media yang pernah kritis.<br>Editorial repositioning: Tempo kembali melihat Jokowi bukan hanya sebagai objek kritik, tetapi sebagai aktor politik yang harus dibaca.<br>Atau mungkin ketiganya berjalan bersamaan.<br>Kita belum boleh melompat menjadi kesimpulan bahwa Tempo telah kembali menjadi pendukung Jokowi. Itu belum terbukti.<br>Tetapi satu hal sudah jelas:<br>Jokowi kembali mendapatkan panggung besar di Tempo.<br>Dan panggung itu bukan sekadar wawancara.<br>Ia hadir sebagai aktor politik menuju 2029.<br>Maka publik wajar mengingat jejak digital masa lalu dan bertanya:<br>Apa yang berubah\u2014Jokowinya, Temponya, atau peta politiknya?<br>Di situlah OSINT bekerja.<br>Bukan untuk menuduh.<br>Tetapi untuk membaca pola:<br>akses \u2192 framing \u2192 amplifikasi \u2192 posisi politik.<br>Karena dalam perang informasi, jangan hanya membaca beritanya.<br>Baca siapa yang diberi panggung, seberapa besar panggungnya, dan ke mana panggung itu diarahkan.<br>Dan kali ini, arah yang tertulis di cover itu sangat jelas:<br>2029.<br>_ Yang terbukti adalah Tempo kembali memberi Jokowi panggung besar sebagai aktor politik menuju 2029. Pertanyaan OSINT-nya bukan lagi apakah Jokowi penting bagi Tempo, tetapi mengapa kepentingan politik Jokowi kembali memperoleh ruang sebesar itu_<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">#GarudaMerah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Membaca Jejak Digital Tempo\u2013Jokowi Catatan Agus M. Maksum Ada sebuah foto yang tampak sederhana: Joko Widodo duduk, mikrofon terpasang, tim Bocor Alus Tempo berada di sekelilingnya.Bagi publik, mungkin itu sekadar wawancara.Tetapi bagi OSINT, yang menarik bukan hanya siapa bertemu siapa. Melainkan kapan, berapa kali, dalam konteks apa, dan apa yang kemudian diproduksi oleh media.Pada 2026, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":123,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[5],"tags":[106,14,43,105,107],"class_list":["post-122","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini","tag-bocor-alus","tag-garuda-merah","tag-garudamerah","tag-jokowi","tag-tempo"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/garudamerah.my.id\/garudame\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/garudamerah.my.id\/garudame\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/garudamerah.my.id\/garudame\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/garudamerah.my.id\/garudame\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/garudamerah.my.id\/garudame\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=122"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/garudamerah.my.id\/garudame\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":124,"href":"https:\/\/garudamerah.my.id\/garudame\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122\/revisions\/124"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/garudamerah.my.id\/garudame\/wp-json\/wp\/v2\/media\/123"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/garudamerah.my.id\/garudame\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=122"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/garudamerah.my.id\/garudame\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=122"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/garudamerah.my.id\/garudame\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=122"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}