Suasana prosesi peresmian dan penandatanganan fasilitas pabrik manufaktur mobil listrik BYD di Subang, Jawa Barat, yang kini menjadi basis produksi utama di Asia Tenggara.

GarudaMerah – Produsen kendaraan listrik raksasa asal Tiongkok, BYD, membuat langkah strategis di Asia Tenggara. Tak lama usai meresmikan pabrik besarnya di Subang, Jawa Barat, BYD mengumumkan pembatalan rencana pembangunan pabrik mandiri di Tanjung Malim, Perak, Malaysia.

Managing Director BYD Malaysia, Jacob Ma, mengonfirmasi hal tersebut dalam sesi taklimat media pada Kamis malam (10/9), sebagaimana dilaporkan Nikkei Asia.

“Untuk meluruskan, fasilitas Tanjung Malim, Perak tidak akan dilanjutkan,” tegas Ma.

Terbentur Aturan dan Syarat Impor Malaysia

Keputusan pembatalan ini dipicu oleh kebijakan baru pemerintah Malaysia. Mulai 1 Juli, Malaysia mewajibkan mobil listrik impor secara utuh (completely built up/CBU) memiliki harga minimal 200.000 ringgit (sekitar Rp865,8 juta) serta bertenaga minimal 180 kW. Regulasi ini berlaku menyusul berakhirnya masa pembebasan pajak untuk mobil listrik impor pada akhir 2025.

Masalahnya, lini produk BYD yang paling diminati masyarakat Malaysia dibanderol di bawah batas minimum tersebut. Agar tetap dapat menjual mobil listrik dengan harga terjangkau, perakitan lokal menjadi satu-satunya pilihan.

Namun, ketimbang membangun pabrik sendiri dari nol—yang tersandung berbagai syarat berat seperti kewajiban mengekspor hingga 80 persen hasil produksi—BYD memilih beralih menggandeng mitra lokal untuk melakukan perakitan penuh (contract manufacturing). Saat ini, pihak BYD tengah memfinalisasi dokumen kerja sama dan akan segera mengumumkannya ke publik.

Indonesia Jadi Basis Manufaktur Utama di ASEAN

Langkah BYD di Malaysia berbanding terbalik dengan ekspansinya di Indonesia. Pabrik BYD di Subang, Jawa Barat, telah resmi beroperasi sejak Kamis (3/9).

Dibangun di atas lahan seluas 126 hektar dengan nilai investasi mencapai Rp11,6 triliun, fasilitas manufaktur ini dirancang memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 unit per tahun. Seiring beroperasinya pabrik Subang ini, BYD juga secara resmi menghentikan seluruh aktivitas impor mobil CBU ke Indonesia.

Keputusan BYD menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi didorong oleh:

  • Potensi pasar domestik yang sangat besar.
  • Dukungan hilirisasi industri baterai nasional.
  • Regulasi investasi yang lebih ramah dan fleksibel.

Kombinasi faktor ini kian memperkuat posisi Indonesia sebagai basis manufaktur kendaraan listrik utama di Asia Tenggara, sekaligus mengamankan nilai tambah ekonomi dan kontrol industri yang lebih besar dibanding negara tetangga.

By MIN_GAR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *