Kemudahan membuat konten di platform seperti Instagram dan Threads ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi menjadi wadah aspirasi, tetapi di sisi lain subur menjadi sarang manipulasi. Saat ini, semakin marak narasi provokatif yang dirancang khusus untuk memicu kemarahan publik—salah satunya melalui teknik framing negatif yang menempatkan kebijakan pemerintah seolah selalu salah, tanpa fakta dan data yang sah.

Postingan berkedok "simulasi" atau "infografis" sering kali dipotong tanpa konteks, menggabungkan separuh fakta dengan kebohongan demi menciptakan kepanikan massa. Ketika emosi masyarakat tersulut, hoax berhasil menjalankan tugasnya: mengaburkan hasil kerja nyata dan memecah belah kepercayaan publik.

Studi Kasus: Modus Manipulasi Konten Viral

Sebagai contoh konkret, belakangan beredar unggahan di Threads dari akun @skolastikaverena yang mengklaim bahwa pemotongan PPh 21 sebesar 35% membuat pekerja bergaji Rp 20 juta hanya menerima Rp 13 juta (dipotong Rp 7 juta). Unggahan ini sengaja menyebar hoaks untuk menggiring opini publik dan menyerang pribadi Presiden.

@slokastikaverena

Fakta Hukum & Data Lapangan (Sesuai UU HPP No. 7/2021 & PP No. 58/2023):

  • Klaim 35% Salah Sasaran: Tarif PPh 21 sebesar 35% bukan untuk pekerja bergaji Rp 20 juta/bulan, melainkan hanya untuk kelompok super kaya dengan Penghasilan Kena Pajak (PKP) di atas Rp 5 Miliar per tahun.
  • Hitungan Riil Gaji Rp 20 Juta: Pekerja dengan status TK/0 dan gaji Rp 20 juta/bulan hanya dikenakan tarif efektif (TER) sekitar 9%–10% (sekitar Rp 1,8 - Rp 2 juta per bulan). Take home pay yang diterima tetap berkisar Rp 18 juta, bukan Rp 13 juta seperti narasi bohong yang dibagikan.

Panduan Saring Sebelum Sharing

  • Periksa Sumber & Profil AkunJangan mudah percaya pada opini pribadi yang dikemas seolah-olah data resmi. Pastikan informasi mengenai kebijakan negara dikonfirmasi melalui kanal resmi kementerian, lembaga pemerintah, atau media massa terverifikasi.
  • Waspadai Umpan Emosional (Clickbait)Narasi yang dibuka dengan nada marah, provokatif, atau memancing rasa takut biasanya dirancang untuk mengabaikan logika penikmatnya. Pause sejenak sebelum menekan tombol like, comment, atau repost.
  • Pahami Framing & Konteks UtuhPotongan angka atau kebijakan sering dipelintir. Cari tahu aturan dasarnya secara utuh, bukan sekadar membaca caption satu slide dari akun anonim atau influencer yang berburu keterikatan (engagement).
  • Gunakan Logika & Pembanding DataJika suatu klaim terdengar terlampau ekstrem atau tidak masuk akal, kemungkinan besar itu adalah disinformasi. Bandingkan dengan analisis ahli perpajakan, ekonomi, atau hukum yang kredibel.

Jadilah pengguna media sosial yang kritis dan berkelas. Kritis terhadap kebijakan itu hak setiap warga negara, tetapi telan mentah-mentah hoax adalah kerugian bagi diri sendiri dan masyarakat luas.

#GarudaMerah

By MIN_GAR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *